Jumat, 19 Juli 2019

Happiness

I'm Strong and Strugle

LDR

Rizqy dan Riyadh ; Rikza dan Rifdah

Episode Baru

Pulang Kampung

Kampung Madani

Banyak Belajar

Rumahku Surgaku

Menikah

Selamat Hijrah Bapak dan Ibu

Kuliah dan Titik Hijrah

Bingung Pilih Mana

Galau Semasa SMA

Senin, 14 November 2016

Sholat Id

Wisuda TPA

Pindah...Ikut Pelajaran Agama Islam

Bapak

Ngaji

Kristen...Kristen..Kristen...

Yang aku ingat saat itu aku di kelas tiga, ada salah seorang temanku namanya Agus adalah anak jarang senyum. Seingatku temen-temen pun segen sama dia. Untuk ukuran kelas tiga sd badannya termasuk besar, rambutnya agak pirang, kulitnya putih dan matanya tajam memandang.  Dalam setiap kesempatan bertemu dengan ku dia selalu berteriak-teriak memanggilku 'kristen'...kristen'...'kristen'...
Julukan itu dia teriakkan padaku sambil mengikutiku kemanapun aku pergi. Pernah aku membentakknya. Tapi ia tidak peduli, tetap mengikutiku sambil berteriak mengolokku. Seingatku Agus begitu sampai aku kelas 4...Sungguh aku sangat tidak suka, dan aku juga tidak tahu maksudnya. Julukan  apakah itu ?...Aku tidak terlalu paham. Belakangan baru aku tahu kristen itu adalah salah satu agama yang dianut di Indonesia.  Tentang agama aku juga belum terlalu mengerti, apakah itu ? Mengapa ada yang beragama Katholik, ada yang Islam ? ... Yang kutahu kegiatan ibadah sehari-hari kedua orang tuaku berbeda dengan kebanyakan penduduk di Dusun Karangwinong.  Bapak dan Ibu tidak pernah ikut mengaji, tidak pernah ikut sholat atau kegiatan keagamaan lain di kampung. Di kampungku belum ada mushola atau masjid. Hanya ada satu tempat namanya langgar, bangunan berbentuk ruangan segi empat kecil disebut langgar yang digunakan untuk ngaji dan sholat berjamaah. Namun karena sempit jadi tidak cukup untuk seluruh penduduk kampung. Maka ada beberapa rumah penduduk yang lebih besar dan sudah berplester dipakai untuk ngaji dan sholat berjamaah.

Bapak dan Ibuku kadang pergi ke gereja pada hari minggu. Kadang kami semua berangkat naik motor berboncengan dengan tiga adikku kadang hanya Bapak dan Ibu kadang hanya Bapak saja. Tetapi karena gerejanya jauuuh di Kota Purbalingga, sangat jarang Bapak dan Ibu pergi ke gereja. Repoot banget.... Pada saat itu di Dusun Karangwinong bahkan Desa Kedungwuluh tidak ada seorang pun yang beragama Katholik.  Seluruh penduduk bergama Islam. Hanya keluarga kami saja yang berbeda dan mereka tahunya tidak ada bedanya antara Katholik dan Kristen sehingga temanku Agus mengolok-oloku dengan memanggilku 'kristen'. Kedua orangtuaku tidak terlalu mengenalkan aku tentang agama Katholik. Hanya ketika di rumah, bapak kadang  membuka sebuah buku mengajak kami menyanyikan bermacam-macam lagu yang ternyata lagu-lagu rohani Katholik. Mengajak kami ke gereja pun hanya sekali-sekali. Bisa dibilang kedua orangtuaku bukan penganut Katholik yang taat. Biasa-biasa saja. Tetapi di identitas mereka beragama katholik otomatis ketika mendaftarkan anak-anaknya di sekolah pun  pihak sekolah mengetahui anak-anaknya sama dengan agama kedua orangtuanya yaitu Katholik. Sebagai sesuatu yang sangat jarang ada di kampung, keberadaan kami sekeluarga mungkin di pandang sesuatu yang asing. Mungkin juga keluarga kami diperbincangkan diantara sesama mereka. dan hanya Agus yang berani mengolok-olokku. Mungkin Agus baru tahu pas kelas tiga sehingga tidak mengolok-oloku sejak kelas satu.

Aku tidak tahu bahwa setiap orang harus memilih salah satu saja agama untuk dianut dan dijadikan pegangan. Kedua orang tuaku bergama Katholik, mereka kadang mengajak kami ke gereja untuk beribadah Katholik kadang mengajak kami menyanyikan lagu rohani di rumah bersama-sama. Di gereja, kami pun hanya ikut-ikutan saja tanpa paham apa yang dilakukan. Sebelum masuk ke gereja, ada tempat air yang terletak di pintu masuk sebelah kanan. Orang-orang mencelupkan jari telunjuk tangan kanannya ke dalam air itu kemudian berlutut dengan lutut kanan saja sambil membuat tanda salib di kening, baru masuk ke dalam gereja dan duduk. Sebelum duduk berlutut dulu dengan lutut sebelah kanan dan membuat tanda salib di kening. Misa dimulai dengan datangnya pendeta dari arah belakang yang diikuti oleh anak-anak laki-laki dan perempuan membawa bermacam-macam bawaan , ada yang membawa semacam tempat dari kuningan yang berasap di tangan kiri dan tangan kanannya mengitarkan asap itu ke sekeliling tempat yang dilewatinya, ada yang membawa krupuk (bentuknya bulat kecil seperti sempe makanan anak kecil yang biasanya dimakan bersama arum manis, aku menyebutnya krupuk) yang akan dibagikan pada setiap jama'at dewasa saat misa sudah selesai sebagai simbol roti (dalam agama Nasrani ada cerita tentang anggur dan roti). Selain itu aku tidak bisa menebak apa saja yang dibawa anak-anak itu. Pada waktu itu sering kubayangkan aku pengen menjadi salah satu dari anak-anak itu berpakaian jubah panjang warna dominan putih ada merahnya membawa berbagai macam barang berjalan pelan-pelan mengiringi pendeta naik ke mimbar. Setelah Pendeta naik ke mimbar dan memulai ceramahnya anak-anak itu menempatkan diri di depan di posisinya masing-masing. Pendeta menyampaikan materi khutbah diselingi dengan lagu-lagu. Materi khutbah hari itu dan lagu-lagu yang dinyanyikan sudah ada di buletin yang dibagikan kepada jama'ah gereja sebelum acara dimulai. Hal itu biasanya berlangsung lebih dari dua jam.

Bagi kami anak-anak dua jam lebih berdiam diri duduk di dalam mendengarkan khutbah sambil menyanyikan lagu rohani adalah hal yang melelahkan dan membosankan. Setelah misa berakhir, para orang dewasa maupun anak-anak yang telah memenuhi kriteria tertentu (aku tidak tahu apa saja kriterianya) maju kedepan untuk menerima 'krupuk' yang dibagikan oleh pendeta.  Karena penasaran apa rasanya 'krupuk' Bapak dan Ibu mengijinkan kami ikut maju ke depan berbaris dengan para orang dewasa anak-anak yang telah memenuhi kriteria tertentu menerima 'krupuk' (anggap saja kami telah memenuhi kriteria, tidak ada yang tahu). Sebelum kedepan kami diajarin oleh Bapak dan Ibu cara menerima roti yang dibagikan oleh pendeta yaitu meletakkan tangan kiri diatas tangan kanan di depan dada. Pendeta akan meletakkan 'krupuk itu diatas telapak tangan kira kemudian kita berhenti sebentar mengambil roti itu dengan tangan kanan dan memasukkan ke mulut, diemut sampai hilang di mulut lalu segera kembali ke tempat duduk. Selesailah misa pada hari itu. Hal ini yang kami tunggu karena kami bisa minta jajan apa saja dan bermacam-macam di halama gereja. Maklum kami tinggal di kampung, jarang sekali jajan. Selain hari  ibadah hari Minggu, Kalo hari raya natal kami akan berangkat semua untuk mengikuti misa natal di gereja. Hanya itu yang kuketahui tentang agama Katholik. Aku pun tidak merasa sebagai orang Katholik. Yang kurasakan hanya ikut-ikutan dan karena diajak oleh Bapak dan Ibu. Makanya sebagaimana kegiatan permainan dengan teman-teman di kampung, aku pun mengikuti kegiatan teman-teman ngaji dan sholat berjama'ah di langgar atau rumah-rumah penduduk sebagai kegiatan yang mengasyikkan untuk diikuti sama dengan kegiatan permainan lain bersama teman-teman. Bapak dan Ibu tidak melarangku. Tidak seperti main-main  di siang hari yang selalu di cari oleh Bapak kalo anak-anaknya tidak di rumah saat Bapak pulang, Bapak tidak mencariku nyuruh pulang kalo aku sedang bermain di langgar atau rumah penduduk untuk ngaji dan sholat berjama'ah. Yah Bapak akan membiarkanku sampai aku pulang sendiri padahal kegiatan ini biasanya dilakukan malam hari, paling malam aku pulang jam setengah sembilan malam.

Selasa, 08 November 2016

Masa Kecil

Keseharian kami di kampung diawali dengan kesibukan pagi berangkat ke sekolah. Mandi pagi dan sarapan. Ibu selalu menyediakan sarapan pagi dan mengharuskan kami sarapan pagi sebelum berangkat. Aku adalah anak paling besar, buatku ada tugas tambahan yaitu membawa kue buatan ibu. Untuk menambah pemasukan ibu membuat galundeng untuk di jual kepada anak-anak di kampung maupun dititipkan di warung dekat sekolah kami. Biasanya pagi sebelum berangkat aku nitip, nanti kuambil sepulang sekolah. Kalo pas habis betapa senangnya hati ini. Kalo gak habis juga gak papa sih, karena berarti sisanya bisa kita habiskan. He..he..he..

Biasanya kami berangkat sekolah berjalan kaki atau bareng dengan Bapak berangkat ke kantor. Kantor Bapak yaitu Departemen Pendidikan dan Kebudayaan terletak di kota Purbalingga, di dekat alun-alun Purbalingga. Dari Karangwinong Bapak harus menempuh perjalanan yang lumayan jauh menuju kantornya. Kalo pas berangkat sekolah tidak bareng dengan Bapak ya berarti kami harus berjalan kaki. Sekolah kami juga lumayan jauh untuk ukuran anak SD. Terletak di dekat kantor Kelurahan Kedungwuluh. Disitu terdapat Sekolah Dasar Kedungwuluh, TK Pertiwi Kedungwuluh dan Balai Desa Kedungwuluh. Kira-kira diperlukan waktu sekitar 15-20 menit berjalan kaki. Kalo pulang sekolah sudah pasti kami akan berjalan kaki. Karena jam pulang sekolah kami Bapak belum pulang. Kadang bersama dengan teman kadang sendirian. Namun sepertinya kami tidak pernah mengeluh, kami jalani semua mengalir begitu saja. paling kami meringis-ringis kesakitan kalo kami berjalan memakai sepatu baru. Karena biasanya sepatu baru masih kaku, apalagi kalo pas sepatu barunya sepatu plastik. Mau dipake sakit kakinya, tapi kalo berjalan gak pake sepatu panas kakinya. Biasanya kami akan berlari-lari kecil agar bisa segera sampai rumah.

Ada sepotong kejadian yang masih kuingat ketika aku masih tk. Berarti sekitar tahun 1982 ketika umur 4 tahun Ibu menyekolahkan aku di TK Pertiwi Kedungwuluh . Waktu aku masih TK aku tidak berjalan sendirian ke sekolah. Tapi diantar oleh Ibu. pada suatu hari aku ke sekolah membawa bola tenis berwarna hijau. Bagi kami itu adalah mainan berharga. Bola tenis tersebut menarik perhatian teman-teman sekelas. Maka kami jadi rebutan, nah untuk menghindari keributan bola itu disimpan oleh Bu Guru TK. hal ini membuatku jengkel hingga aku memutuskan kabur dari sekolah. Pulang sendirian jalan kaki kerumah. Hal ini membuat ibu kaget, kok pulang sendirian ??..... Bu Guru TK juga sempat panik, anaknya ilang satu, akhirnya Bu Guru memastikan aku sudah sampai rumah atau belum dengan mendatangi rumahku, membawakan bolaku dan menerangkan kejadian yang sebenarnya pada ibu. Sedangkan aku tidak berani menemui Bu Guru. Aku ngumpet di kolong tempat tidur sambil deg-degan.... Ooo nakalnya diriku. 

Sepulang sekolah, setelah ganti baju makan siang kami mengerjakan pe-er atau belajar sekedarnya. Setelah itu kami bermain dengan anak-anak kampung. Ada banyak permainan yang menarik. Gobag sodor, petak umpet, maen bola, masak-masakan (masak beneran tapi yang dimasak daun-daunan tidak untuk dimakan kadang kami masak beneran untuk dimakan. Biasanya kami mencari daun genjer di sawah untuk di masak oseng lalu kami makan sama-sama), rujakan (kami mengumpulkan buah-buahan dari kebon (seringnya kebon Pak Lurah dan kami akan dilempari batu karena masuk kebonnya dan mengambil buah-buahan tanpa ijin....mencuri dooong...Astaghfirulaah), bermain di sawah (pura-pura menanam padi, masuk ke lumpur entah sawah siapa..kami juga sering diteriakkin yang punya sawah karena merusak dan menggangu sawahnya), maen di kali (mandi, terjun ke air, berenang dan kejar-kejaran), mencari kayu bakar dengan memanjat pohon yang tinggi...dan masih banyak lagi rasanya tidak cukup untuk menyebutkan banyaknya aktivitas bermain bersama teman-teman di kampung itu. 

Keasyikan bermain itu bagi kami anak-anak Bapak tidak berlangsung lama. Karena Bapak tidak pernah mengijinkan kami bermain bebas di luar rumah. Ada banyak alasan diantaranya bapak khawatir kami ikut-ikutan atau diajak/diganggu pergaulan bebas  teman-teman di kampung  (walopun di kampung, jaman dulu pula,  aku sering mendengar beberapa teman yang pacarannya berlebihan. Hal ini baru bisa kumengerti jauh hari setelah pindah dari kampung), Bapak juga khawatir kami tidak fokus belajar karena keasyikan bermain. Jadi walaupun sedang asyik-asyiknya maen kalo mendengar suara motor Bapak menderu-deru kami harus segera berlari pulang. Kalo ternyata kami tidak mendengar suara motor Bapak, maka jangan kaget kalo tiba-tiba Bapak mendatangi kami dengan membawa sebilah kayu yang terangkat tinggi sambil berteriak kepada kami 'bali'...! kemudian kami hanya bisa menyaksikan teman-teman yang masih asyik bermain dari dalam rumah kalo kebetulan permainan yang mereka lakukan di halaman depan rumah. Suatu kebiasaan anak-anak kampung kami ketika hujan turun mereka bermain hujan-hujanan atau ketika bulan purnama tiba mereka bermain rame sekali di halaman. Kami ingin sekali ikut bermain tetapi walopun sudah merayu sampai merengek-rengek tetap tidak akan diijinkan. Dan kami hanya harus puas dengan memandang mereka dari dalam rumah. Ooo Bapakku sayang.

Dengan cara Bapak melindungi kami dari pergaulan anak-anak kampung, kami jadi fokus dalam belajar dan bersekolah. Bermain hanya seperlunya saja. Bapak sering mengajak kami bermain dengan caranya. Seperti mencari ikan atau udang di kali. Bapak akan mengajak kami berangkat pagi-pagi (kurang lebih jam 6 pagi) menyusuri kali belakang rumah yang membelah sawah hingga ke kuburan tengah sawah yang kelihatan dari samping rumah hingga matahari naik sedikit (kira-kira jam 9). Walopun hanya segelas udang kecil yang kami dapat namun lebih dari segelas udang senangnya hati kami. Biasanya kami akan menyerahkan udang tersebut kepada ibu untuk di goreng dan akan kami makan dengan lahap bersama nasi hangat. Lain waktu  Bapak mengajak kami keluar sesaat sebelum shubuh bersama penduduk kampung lain menunggu buah jatuh dari pohon (kebiasaan di kampung kami bila sedang musim buah-buahan seringnya rambutan dan mangga, orang-orang akan menunggu buah-buah yang jatuh sendiri ke tanah untuk di bawa pulang...entah hal ini halal atau tidak..). Karena berebut dengan tetangga-tetangga yang lain biasanya kami pulang dengan membawa beberapa buah-buahan yang kebetulan jatuh di dekat kami berdiri...oo senangnya. Oya karena sudah jadi hal yang umum di kampung kami, pemilik pohon tidak mempermasalahkan para tetangganya mengambil buah-buahan yang jatuh asal tidak mengambil yang masih ada di pohon.

Rumah

Sudah sejak lama keinginan ini kubiarkan dalam angan-angan.  Menuliskan perjalanan hidupku dalam sebuah cerita yang sederhana yang mengalir begitu saja. Disamping ingin melatih ketrampilan menulis (kata orang yang pintar menulis, menulislah apa saja maka engkau akan terbiasa merangkai kata)juga ingin sekali waktu mengingat-ingat apa yang terjadi di masa lalu kemudian mensyukuri segalanya, menyadarkan diri bahwa semuanya adalah atas karunia Ilahi. Selain itu juga inginnya suatu saat nanti anak cucu bisa membaca kisah hidup kedua orang tuanya dan diri mereka sendiri untuk bisa diambil hikmahnya dan sebagai bekal dalam menjalani kehidupan.

    
Sekelumit kisah masa kecilku yang masih bisa kuingat-ingat ini berawal dari sebuah Dukuh Karangwinong Desa Kedungwuluh Kecamatan Kalimanah Kabupaten Purbalingga Jawa Tengah kehidupan . Keluargaku bukan penduduk asli, Bapak berasal dari Yogyakarta sedangkan ibu asli Muntilan Magelang dan aku lahir di Jayapura. Bapak adalah seorang pegawai di Dinas Pendidikan (waktu itu Departemen Pendidikan dan Kebudayaan) yang telah belasan tahun bertugas di daerah Timur Indonesia yaitu Irian Jaya. Setelah menikah dengan Ibu dan memiliki anak Bapak memutuskan untuk kembali ke Jawa Tengah. Akhirnya Bapak di tempatkan di Dinas Pendidikan Kabupaten Purbalingga dan Bapak membeli tanah di Dukuh Karangwinong dan membangun rumah sederhana dari gedeg bambu dan kayu. Disinilah kehidupanku berawal. Yaah sebatas yang terekam dalam memoriku.


Sebuah kehidupan yang sederhana. Rumah beratap seng berlantai tanah berdinding kayu dibagian bawah dan sebagian atasnya adalah gedeg dari bambu. Rumah kami terletak di pojok b elakang kampung. Dimana belakang rumah kami adalah kebon bambu. Berbatasan dengan kebon milik Pak Lurah yang juga berisi tanaman bambu yang rimbun. Di ujung kebon bambu milik Pak Lurah ini terdapat kuburan keluarga Pak Lurah (kalo gak salah) dan setelahnya adalah sawah yang amat luas entah milik siapa. Disebelah kiri adalah kebon bambu berbatasan dengan sawah dan di tengah sawah ada kuburan yang kelihatan dari samping rumah. Sedangkan di sebelah kanan adalah rumah Yu Rasiyem tetangga satu-satunya. Dia tinggal bersama anak pertama, menantunya dan dua orang cucu serta anak keduanya. Dengan merekalah keluarga kami saling berbagi dan tolong menolong. Berbagi makanan dan saling menitipkan rumah, jemuran dan anak-anak bila para orang tua berkepentingan pergi.

Rumah kami hanya ada satu kamar yang luas, berisi 3 dipan (tempat tidur yang terbuat dari kayu seadanya) dengan kasur kapuk yag sudah tidak empuk. Sesuka kami akan tidur dimana. Di kampung kami belum ada listrik, penerangan yang kami gunakan adalah lampu teplok. Ada penampung minyak tanah, sumbu dan kaca gelas tipis untuk melindungi api agar tidak mati terkena angin. Kadang ibu membuat lampu teplok dari botol bila lampu teplok kurang. Karena kami memerlukan banyak lampu untuk diletakkan di kamar tidur dan di ruang tamu. Bila kami ingin  ke dapur atau ke belakang kami juga memerlukan lampu untuk menerangi jalan. Benar-benar gelap gulita.

Pernah aku sedang tidur nyenyak terbangun karena api sudah membakar rambutku. Rupaya lampu yang di cantelkan di atas tempar tidurku jatuh dan mengenai rambutku. Untunglah ibu sigap mengambil kain lalu dibasahi dengan air dan menutupkannya ke kepalaku hingga padamlah apinya.

Oya kalo malam kami pengen pipis, maka kami akan pipis di salah satu sudut kamar kami kemudian bergegas tidur lagi. Seringnya kami malas ke belakang karena kamar mandi terletak di halaman belakang rumah belum permanen, hanya dibatasi dengan bilik bambu tidak beratap. Disamping gelap, dingin juga sungkan karena kalo mendongakkan kepala maka akan tampak kebun bambu yang sunyi seolah-olah sedang mengawasi kami. Bapak Ibu juga enggan mengantar kami ke belakang. Maka esok paginya ibu akan menyiram bekas pipis kami semalam dengan air seember hingga bersih. He..he..jorok ya...

Di kampung kami belum banyak orang yang memiliki kompor minyak, rata-rata orang memasak menggunakan pawon untuk memasak. Pawon biasa dibuat dari  adukan semen di bentuk dua atau tiga lubang diatasnya untuk tempat panci atau tungku dan dua lubang di depan dan di belakang untuk memasukkan kayu bakar. Ibu memiliki kompor minyak dua namun lebih sering menggunakan kompor minyak untuk memasak. Entah karena mencari minyak susah atau karena menghemat. Kalo memasak dengan kayu kami tinggal mencari kayu di kebon. Atau menebang beberapa bambu untuk dikeringkan menjadi kayu bakar. Diatas pawon itulah ibu meletakkan para-para untuk menyimpan kayu bakar. Didekat pawon ada lemari dan meja kecil untuk menyimpan makanan. Itulah dapur kami.

Ruang tamu kami hanya ada beberapa bangku dari kayu. Disamping untuk menerima tamu juga kami gunakan untuk belajar dan mendengarkan radio. Yah radio itulah satu-satunya hiburan di rumah kami. Siaran favorit kami adalah sandiwara radio "Mak Lampir"  dan "Brama Kumbara". Bila tiba waktunya kami akan khusyuk di depan radio dengan tidak ada seorang pun yang bersuara. Kami biasanya belajar dan mengerjakan pe-er sepulang sekolah. Karena kalo malam belajar menggunakan penerangan dari lampu teplok kurang terang.

Yah itulah rumah kami hanya memiliki tiga ruangan. Ruang tamu, kamar tidur dan dapur. Di halaman depan rumah sebelah kanan Bapak menanam pohon jeruk, di pinggir-pinggir halaman kami menanam berbagai macam tanaman bunga dan daun kecil-kecil yang kami dapatkan dari rumah teman dan tetangga. Disamping kanan rumah adalah tempat kami menjemur baju. Disebelah kiri sisa sedikit tempat kami bermain siang hari karena tempat ini terlindung dari matahari sehingga sejuk. Di belakang rumah terdapat sumur tempat kami mandi, mencuci dan keperluan lain. Sayangnya diatas sumur terdapat pohon bambu yang banyak, seringnya buluh bambu jatuh ke dalam sumur (ibu menyebutnya lugut). Jadi kalo kita mandi menggunakan air sumur yang berlugut pasti badannya akan gatal-gatal. Begitu juga kalo digunakan untuk mencuci baju, maka bajunya pun akan menjadi gatal. Kalo sudah begitu kami akan numpang mandi/mencuci di sumur Yu Rasiyem atau pergi ke kali di belakang kampung atau di depan kampung.  Sumur itu akan kami pake lagi kalo Bapak atau Ibu sudah sempet mengurasnya.

Kalo kami, anak-anaknya lebih senang mandi atau mencuci di kali yang terletak di depan kampung. Bisa sambil bermain, berkejaran lomba terjun dan balapan berenang. Tentu saja kami bermain selesai mencuci baju.

Itulah rumah kami di Dusun Karang Winong Desa Kedungwuluh Kecamatan Kalimanah Kabupaten Purbalingga Propinsi Jawa Tengah. Rumah yang kami tinggali hingga aku naik ke kelas enam.