Selasa, 08 November 2016

Rumah

Sudah sejak lama keinginan ini kubiarkan dalam angan-angan.  Menuliskan perjalanan hidupku dalam sebuah cerita yang sederhana yang mengalir begitu saja. Disamping ingin melatih ketrampilan menulis (kata orang yang pintar menulis, menulislah apa saja maka engkau akan terbiasa merangkai kata)juga ingin sekali waktu mengingat-ingat apa yang terjadi di masa lalu kemudian mensyukuri segalanya, menyadarkan diri bahwa semuanya adalah atas karunia Ilahi. Selain itu juga inginnya suatu saat nanti anak cucu bisa membaca kisah hidup kedua orang tuanya dan diri mereka sendiri untuk bisa diambil hikmahnya dan sebagai bekal dalam menjalani kehidupan.

    
Sekelumit kisah masa kecilku yang masih bisa kuingat-ingat ini berawal dari sebuah Dukuh Karangwinong Desa Kedungwuluh Kecamatan Kalimanah Kabupaten Purbalingga Jawa Tengah kehidupan . Keluargaku bukan penduduk asli, Bapak berasal dari Yogyakarta sedangkan ibu asli Muntilan Magelang dan aku lahir di Jayapura. Bapak adalah seorang pegawai di Dinas Pendidikan (waktu itu Departemen Pendidikan dan Kebudayaan) yang telah belasan tahun bertugas di daerah Timur Indonesia yaitu Irian Jaya. Setelah menikah dengan Ibu dan memiliki anak Bapak memutuskan untuk kembali ke Jawa Tengah. Akhirnya Bapak di tempatkan di Dinas Pendidikan Kabupaten Purbalingga dan Bapak membeli tanah di Dukuh Karangwinong dan membangun rumah sederhana dari gedeg bambu dan kayu. Disinilah kehidupanku berawal. Yaah sebatas yang terekam dalam memoriku.


Sebuah kehidupan yang sederhana. Rumah beratap seng berlantai tanah berdinding kayu dibagian bawah dan sebagian atasnya adalah gedeg dari bambu. Rumah kami terletak di pojok b elakang kampung. Dimana belakang rumah kami adalah kebon bambu. Berbatasan dengan kebon milik Pak Lurah yang juga berisi tanaman bambu yang rimbun. Di ujung kebon bambu milik Pak Lurah ini terdapat kuburan keluarga Pak Lurah (kalo gak salah) dan setelahnya adalah sawah yang amat luas entah milik siapa. Disebelah kiri adalah kebon bambu berbatasan dengan sawah dan di tengah sawah ada kuburan yang kelihatan dari samping rumah. Sedangkan di sebelah kanan adalah rumah Yu Rasiyem tetangga satu-satunya. Dia tinggal bersama anak pertama, menantunya dan dua orang cucu serta anak keduanya. Dengan merekalah keluarga kami saling berbagi dan tolong menolong. Berbagi makanan dan saling menitipkan rumah, jemuran dan anak-anak bila para orang tua berkepentingan pergi.

Rumah kami hanya ada satu kamar yang luas, berisi 3 dipan (tempat tidur yang terbuat dari kayu seadanya) dengan kasur kapuk yag sudah tidak empuk. Sesuka kami akan tidur dimana. Di kampung kami belum ada listrik, penerangan yang kami gunakan adalah lampu teplok. Ada penampung minyak tanah, sumbu dan kaca gelas tipis untuk melindungi api agar tidak mati terkena angin. Kadang ibu membuat lampu teplok dari botol bila lampu teplok kurang. Karena kami memerlukan banyak lampu untuk diletakkan di kamar tidur dan di ruang tamu. Bila kami ingin  ke dapur atau ke belakang kami juga memerlukan lampu untuk menerangi jalan. Benar-benar gelap gulita.

Pernah aku sedang tidur nyenyak terbangun karena api sudah membakar rambutku. Rupaya lampu yang di cantelkan di atas tempar tidurku jatuh dan mengenai rambutku. Untunglah ibu sigap mengambil kain lalu dibasahi dengan air dan menutupkannya ke kepalaku hingga padamlah apinya.

Oya kalo malam kami pengen pipis, maka kami akan pipis di salah satu sudut kamar kami kemudian bergegas tidur lagi. Seringnya kami malas ke belakang karena kamar mandi terletak di halaman belakang rumah belum permanen, hanya dibatasi dengan bilik bambu tidak beratap. Disamping gelap, dingin juga sungkan karena kalo mendongakkan kepala maka akan tampak kebun bambu yang sunyi seolah-olah sedang mengawasi kami. Bapak Ibu juga enggan mengantar kami ke belakang. Maka esok paginya ibu akan menyiram bekas pipis kami semalam dengan air seember hingga bersih. He..he..jorok ya...

Di kampung kami belum banyak orang yang memiliki kompor minyak, rata-rata orang memasak menggunakan pawon untuk memasak. Pawon biasa dibuat dari  adukan semen di bentuk dua atau tiga lubang diatasnya untuk tempat panci atau tungku dan dua lubang di depan dan di belakang untuk memasukkan kayu bakar. Ibu memiliki kompor minyak dua namun lebih sering menggunakan kompor minyak untuk memasak. Entah karena mencari minyak susah atau karena menghemat. Kalo memasak dengan kayu kami tinggal mencari kayu di kebon. Atau menebang beberapa bambu untuk dikeringkan menjadi kayu bakar. Diatas pawon itulah ibu meletakkan para-para untuk menyimpan kayu bakar. Didekat pawon ada lemari dan meja kecil untuk menyimpan makanan. Itulah dapur kami.

Ruang tamu kami hanya ada beberapa bangku dari kayu. Disamping untuk menerima tamu juga kami gunakan untuk belajar dan mendengarkan radio. Yah radio itulah satu-satunya hiburan di rumah kami. Siaran favorit kami adalah sandiwara radio "Mak Lampir"  dan "Brama Kumbara". Bila tiba waktunya kami akan khusyuk di depan radio dengan tidak ada seorang pun yang bersuara. Kami biasanya belajar dan mengerjakan pe-er sepulang sekolah. Karena kalo malam belajar menggunakan penerangan dari lampu teplok kurang terang.

Yah itulah rumah kami hanya memiliki tiga ruangan. Ruang tamu, kamar tidur dan dapur. Di halaman depan rumah sebelah kanan Bapak menanam pohon jeruk, di pinggir-pinggir halaman kami menanam berbagai macam tanaman bunga dan daun kecil-kecil yang kami dapatkan dari rumah teman dan tetangga. Disamping kanan rumah adalah tempat kami menjemur baju. Disebelah kiri sisa sedikit tempat kami bermain siang hari karena tempat ini terlindung dari matahari sehingga sejuk. Di belakang rumah terdapat sumur tempat kami mandi, mencuci dan keperluan lain. Sayangnya diatas sumur terdapat pohon bambu yang banyak, seringnya buluh bambu jatuh ke dalam sumur (ibu menyebutnya lugut). Jadi kalo kita mandi menggunakan air sumur yang berlugut pasti badannya akan gatal-gatal. Begitu juga kalo digunakan untuk mencuci baju, maka bajunya pun akan menjadi gatal. Kalo sudah begitu kami akan numpang mandi/mencuci di sumur Yu Rasiyem atau pergi ke kali di belakang kampung atau di depan kampung.  Sumur itu akan kami pake lagi kalo Bapak atau Ibu sudah sempet mengurasnya.

Kalo kami, anak-anaknya lebih senang mandi atau mencuci di kali yang terletak di depan kampung. Bisa sambil bermain, berkejaran lomba terjun dan balapan berenang. Tentu saja kami bermain selesai mencuci baju.

Itulah rumah kami di Dusun Karang Winong Desa Kedungwuluh Kecamatan Kalimanah Kabupaten Purbalingga Propinsi Jawa Tengah. Rumah yang kami tinggali hingga aku naik ke kelas enam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar