Selasa, 08 November 2016

Masa Kecil

Keseharian kami di kampung diawali dengan kesibukan pagi berangkat ke sekolah. Mandi pagi dan sarapan. Ibu selalu menyediakan sarapan pagi dan mengharuskan kami sarapan pagi sebelum berangkat. Aku adalah anak paling besar, buatku ada tugas tambahan yaitu membawa kue buatan ibu. Untuk menambah pemasukan ibu membuat galundeng untuk di jual kepada anak-anak di kampung maupun dititipkan di warung dekat sekolah kami. Biasanya pagi sebelum berangkat aku nitip, nanti kuambil sepulang sekolah. Kalo pas habis betapa senangnya hati ini. Kalo gak habis juga gak papa sih, karena berarti sisanya bisa kita habiskan. He..he..he..

Biasanya kami berangkat sekolah berjalan kaki atau bareng dengan Bapak berangkat ke kantor. Kantor Bapak yaitu Departemen Pendidikan dan Kebudayaan terletak di kota Purbalingga, di dekat alun-alun Purbalingga. Dari Karangwinong Bapak harus menempuh perjalanan yang lumayan jauh menuju kantornya. Kalo pas berangkat sekolah tidak bareng dengan Bapak ya berarti kami harus berjalan kaki. Sekolah kami juga lumayan jauh untuk ukuran anak SD. Terletak di dekat kantor Kelurahan Kedungwuluh. Disitu terdapat Sekolah Dasar Kedungwuluh, TK Pertiwi Kedungwuluh dan Balai Desa Kedungwuluh. Kira-kira diperlukan waktu sekitar 15-20 menit berjalan kaki. Kalo pulang sekolah sudah pasti kami akan berjalan kaki. Karena jam pulang sekolah kami Bapak belum pulang. Kadang bersama dengan teman kadang sendirian. Namun sepertinya kami tidak pernah mengeluh, kami jalani semua mengalir begitu saja. paling kami meringis-ringis kesakitan kalo kami berjalan memakai sepatu baru. Karena biasanya sepatu baru masih kaku, apalagi kalo pas sepatu barunya sepatu plastik. Mau dipake sakit kakinya, tapi kalo berjalan gak pake sepatu panas kakinya. Biasanya kami akan berlari-lari kecil agar bisa segera sampai rumah.

Ada sepotong kejadian yang masih kuingat ketika aku masih tk. Berarti sekitar tahun 1982 ketika umur 4 tahun Ibu menyekolahkan aku di TK Pertiwi Kedungwuluh . Waktu aku masih TK aku tidak berjalan sendirian ke sekolah. Tapi diantar oleh Ibu. pada suatu hari aku ke sekolah membawa bola tenis berwarna hijau. Bagi kami itu adalah mainan berharga. Bola tenis tersebut menarik perhatian teman-teman sekelas. Maka kami jadi rebutan, nah untuk menghindari keributan bola itu disimpan oleh Bu Guru TK. hal ini membuatku jengkel hingga aku memutuskan kabur dari sekolah. Pulang sendirian jalan kaki kerumah. Hal ini membuat ibu kaget, kok pulang sendirian ??..... Bu Guru TK juga sempat panik, anaknya ilang satu, akhirnya Bu Guru memastikan aku sudah sampai rumah atau belum dengan mendatangi rumahku, membawakan bolaku dan menerangkan kejadian yang sebenarnya pada ibu. Sedangkan aku tidak berani menemui Bu Guru. Aku ngumpet di kolong tempat tidur sambil deg-degan.... Ooo nakalnya diriku. 

Sepulang sekolah, setelah ganti baju makan siang kami mengerjakan pe-er atau belajar sekedarnya. Setelah itu kami bermain dengan anak-anak kampung. Ada banyak permainan yang menarik. Gobag sodor, petak umpet, maen bola, masak-masakan (masak beneran tapi yang dimasak daun-daunan tidak untuk dimakan kadang kami masak beneran untuk dimakan. Biasanya kami mencari daun genjer di sawah untuk di masak oseng lalu kami makan sama-sama), rujakan (kami mengumpulkan buah-buahan dari kebon (seringnya kebon Pak Lurah dan kami akan dilempari batu karena masuk kebonnya dan mengambil buah-buahan tanpa ijin....mencuri dooong...Astaghfirulaah), bermain di sawah (pura-pura menanam padi, masuk ke lumpur entah sawah siapa..kami juga sering diteriakkin yang punya sawah karena merusak dan menggangu sawahnya), maen di kali (mandi, terjun ke air, berenang dan kejar-kejaran), mencari kayu bakar dengan memanjat pohon yang tinggi...dan masih banyak lagi rasanya tidak cukup untuk menyebutkan banyaknya aktivitas bermain bersama teman-teman di kampung itu. 

Keasyikan bermain itu bagi kami anak-anak Bapak tidak berlangsung lama. Karena Bapak tidak pernah mengijinkan kami bermain bebas di luar rumah. Ada banyak alasan diantaranya bapak khawatir kami ikut-ikutan atau diajak/diganggu pergaulan bebas  teman-teman di kampung  (walopun di kampung, jaman dulu pula,  aku sering mendengar beberapa teman yang pacarannya berlebihan. Hal ini baru bisa kumengerti jauh hari setelah pindah dari kampung), Bapak juga khawatir kami tidak fokus belajar karena keasyikan bermain. Jadi walaupun sedang asyik-asyiknya maen kalo mendengar suara motor Bapak menderu-deru kami harus segera berlari pulang. Kalo ternyata kami tidak mendengar suara motor Bapak, maka jangan kaget kalo tiba-tiba Bapak mendatangi kami dengan membawa sebilah kayu yang terangkat tinggi sambil berteriak kepada kami 'bali'...! kemudian kami hanya bisa menyaksikan teman-teman yang masih asyik bermain dari dalam rumah kalo kebetulan permainan yang mereka lakukan di halaman depan rumah. Suatu kebiasaan anak-anak kampung kami ketika hujan turun mereka bermain hujan-hujanan atau ketika bulan purnama tiba mereka bermain rame sekali di halaman. Kami ingin sekali ikut bermain tetapi walopun sudah merayu sampai merengek-rengek tetap tidak akan diijinkan. Dan kami hanya harus puas dengan memandang mereka dari dalam rumah. Ooo Bapakku sayang.

Dengan cara Bapak melindungi kami dari pergaulan anak-anak kampung, kami jadi fokus dalam belajar dan bersekolah. Bermain hanya seperlunya saja. Bapak sering mengajak kami bermain dengan caranya. Seperti mencari ikan atau udang di kali. Bapak akan mengajak kami berangkat pagi-pagi (kurang lebih jam 6 pagi) menyusuri kali belakang rumah yang membelah sawah hingga ke kuburan tengah sawah yang kelihatan dari samping rumah hingga matahari naik sedikit (kira-kira jam 9). Walopun hanya segelas udang kecil yang kami dapat namun lebih dari segelas udang senangnya hati kami. Biasanya kami akan menyerahkan udang tersebut kepada ibu untuk di goreng dan akan kami makan dengan lahap bersama nasi hangat. Lain waktu  Bapak mengajak kami keluar sesaat sebelum shubuh bersama penduduk kampung lain menunggu buah jatuh dari pohon (kebiasaan di kampung kami bila sedang musim buah-buahan seringnya rambutan dan mangga, orang-orang akan menunggu buah-buah yang jatuh sendiri ke tanah untuk di bawa pulang...entah hal ini halal atau tidak..). Karena berebut dengan tetangga-tetangga yang lain biasanya kami pulang dengan membawa beberapa buah-buahan yang kebetulan jatuh di dekat kami berdiri...oo senangnya. Oya karena sudah jadi hal yang umum di kampung kami, pemilik pohon tidak mempermasalahkan para tetangganya mengambil buah-buahan yang jatuh asal tidak mengambil yang masih ada di pohon.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar